Jumat, 27 November 2009

Luruh oleh Waktu


Sudahkah aku ceritakan tentang lelaki berwajah murung? Ya, ya, ya…aku sudah mengiranya, pasti itu yang paling diingat, lelaki berwajah murung adalah married man with three children.

Tapi sebenarnya, itu pula salah satu hal yang hendak aku ceritakan.

Lelaki berwajah murung itu, akan menjelma menjadi merak elok kembali apabila dia bercerita tentang ketiga anaknya yang amat ia cintai. Perempuan-perempuan-dan lelaki kecil, yang saat aku melihat fotonya, aku langsung berpendapat laki-laki kecil itu adalah fotocopy dari lelaki berwajah murung. Kecuali bahwa laki-laki kecil itu tidak mewarisi wajah murung dari ayahnya. Matanya berbinar bandel, khas anak kecil yang selalu ingin tahu semua hal. Tapi memang kupikir wajah murung memang tidak untuk diwariskan. Dan lelaki berwajah murung itu pun pasti tidak mewarisinya dari orang tuanya. Yang paling masuk akal, kupikir wajah murungnya itu terbentuk kemudian.

Di sisi lain, keelokan merak itu pun akan luruh saat lelaki berwajah murung itu dipaksa untuk bercerita tentang pendamping hidupnya. Jangan tanya kenapa, aku sendiri juga sulit menganalisanya. Lelaki berwjah murung itu terlalu pelit bercerita tentang pendamping hidupnya, ibu dari ketiga anaknya. Dia hanya bilang bahwa dia tipe laki-laki yang banyak mengalah, memilih menepi daripada membakar masalah. Bertahun-tahun, katanya. Tak pernah ada perubahan. Dia sendiri lebih memilih menunggu dan menyandarkan pada keajaiban untuk merubah kondisi seperti itu menjadi lebih baik seperti yang dia harapkan.


Rabu, 25 November 2009

Lelaki Berwajah Murung


Syahdan, sebelum aku bertemu dengan my-mr. big, aku bertemu dengan lelaki berwajah murung. Dikenalkan oleh seorang teman dalam suatu diklat informal dari kantor yang diselenggarakan selama tiga minggu. Kami sama-sama menjadi peserta, dikirim dari kantor yang berbeda.

Ya, lelaki berwajah murung. Karena seperti ada kabut dalam matanya, dan raut muka seolah bertirai ketidakpedulian. Amat ngirit ngomong. Bila diajak berbicara pun, tatapan matanya tak akan langsung dapat dilihat. Lelaki yang tidak menyenangkan untuk diajak bercakap. Aku pun tak tertarik lebih jauh untuk mengenalnya.

Tapi apa daya, kami justru disatukan dalam satu tim, yang otomatis membuatku harus sering berinteraksi dengannya. Maka mengalirlah cerita yang berbeda, mulutnya yang semula amat irit bicara tiba-tiba terbuka. Dan lelaki itu pun bercerita tentang ibunya yang telah meninggal lama setelah lima tahun terkena stroke. Lima tahun yang melelahkan, katanya, lelah fisik dan lelah emosi. Dia yang saat itu masih sekolah, menjadi pendamping ibunya dengan setia. Karena semua saudaranya adalah laki-laki, maka mereka berbagi tugas. Dia, lelaki berwajah murung itu, kebagian mengurusi dapur. Belanja dan memasak menjadi tugasnya. Aku sempat tertegun. Lelaki itu, berpostur ideal tinggi dan berdada bidang, dengan lengan yang kukuh ternyata pandai memasak.