Rabu, 25 November 2009

Lelaki Berwajah Murung


Syahdan, sebelum aku bertemu dengan my-mr. big, aku bertemu dengan lelaki berwajah murung. Dikenalkan oleh seorang teman dalam suatu diklat informal dari kantor yang diselenggarakan selama tiga minggu. Kami sama-sama menjadi peserta, dikirim dari kantor yang berbeda.

Ya, lelaki berwajah murung. Karena seperti ada kabut dalam matanya, dan raut muka seolah bertirai ketidakpedulian. Amat ngirit ngomong. Bila diajak berbicara pun, tatapan matanya tak akan langsung dapat dilihat. Lelaki yang tidak menyenangkan untuk diajak bercakap. Aku pun tak tertarik lebih jauh untuk mengenalnya.

Tapi apa daya, kami justru disatukan dalam satu tim, yang otomatis membuatku harus sering berinteraksi dengannya. Maka mengalirlah cerita yang berbeda, mulutnya yang semula amat irit bicara tiba-tiba terbuka. Dan lelaki itu pun bercerita tentang ibunya yang telah meninggal lama setelah lima tahun terkena stroke. Lima tahun yang melelahkan, katanya, lelah fisik dan lelah emosi. Dia yang saat itu masih sekolah, menjadi pendamping ibunya dengan setia. Karena semua saudaranya adalah laki-laki, maka mereka berbagi tugas. Dia, lelaki berwajah murung itu, kebagian mengurusi dapur. Belanja dan memasak menjadi tugasnya. Aku sempat tertegun. Lelaki itu, berpostur ideal tinggi dan berdada bidang, dengan lengan yang kukuh ternyata pandai memasak.



Tak hanya itu, kabut yang semula melapisi matanya mendadak perlahan luruh. Dan aku melihat sinar cahaya, kecintaan yang amat dalam pada ibunya.

Aku pun terpesona. Di mataku, lelaki itu tak lagi berwajah murung. Dia menjelma menjadi burung merak yang berdiri tegak, dengan keelokan bulunya yang bersinar. Lelaki berwajah murung itu ternyata berparas tampan.

Sejak saat itu, kami menjadi dekat. Sepenggal kisah luka masing-masing di masa lalu menambah keeratan kami. Bahkan setelah diklat itu kelar dan kami kembali ke tempat masing-masing. Kedekatan itu tidak lantas menjadi renggang. Karena memang aku mengaguminya. Ternyata dia juga mengagumiku. Aku merasa membutuhkannya mengisi hidupku. Dia pun butuh aku untuk membutuhkannya, dalam mengisi hidupnya.

Hmm..sepertinya ada aroma romance disini….

Rasanya….  Lho, kok cuma rasanya?

Iya, rasanya…because he’s not available anymore. He is married-man, with three children.

Tidak ada komentar: